Alhamdulillāh. Sebuah kabar membanggakan datang dari ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kecamatan Tajurhalang. Santri Taruna Insani Boarding School yang mewakili Desa Sasak Panjang berhasil membawa pulang sejumlah prestasi dari beberapa cabang perlombaan.
Bukan sekadar tentang piala yang berhasil diraih, capaian ini menjadi bukti bahwa pembinaan Al-Qur’an di lingkungan pendidikan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya dekat dengan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kemampuan memahami, menghafal, menjelaskan, dan menyampaikan kandungannya.
Tiga Prestasi untuk Desa Sasak Panjang
Dalam MTQ Tingkat Kecamatan Tajurhalang, santri Taruna Insani berhasil meraih tiga capaian membanggakan:
- Juara 1 Fahmil Qur’an diraih oleh Sayyid Muhammad Zubair, Muhammad Riski Aditya Putra, dan Rafandra Azzamy.
- Juara 1 Syarhil Qur’an diraih oleh Fathir Annas Syahputra, Adhib Akbar Mufazan, dan Rizki Alif.
- Terbaik 2 MHQ 10 Juz diraih oleh Syahid Syamlan Al Mufid.
Ketiga capaian tersebut menunjukkan bentuk kemampuan yang berbeda. Ada yang menuntut kekuatan hafalan, ada yang menguji keluasan wawasan dan kecepatan berpikir, dan ada pula yang menuntut kemampuan menyampaikan kandungan Al-Qur’an secara utuh dan komunikatif.
Fahmil Qur’an: Bukan Sekadar Hafal, tetapi Harus Faham
Salah satu prestasi yang paling menarik untuk disoroti adalah Juara 1 Fahmil Qur’an. Sebab, sesuai namanya, fahmil berkaitan dengan pemahaman. Cabang ini pada dasarnya merupakan lomba cerdas cermat Al-Qur’an yang menguji pemahaman peserta terhadap kandungan Al-Qur’an sekaligus wawasan keislaman.
Dalam pelaksanaannya, peserta tidak cukup hanya mengandalkan hafalan. Mereka harus mampu memahami ayat, menerjemahkan, mengetahui tajwid, memahami tafsir, kisah-kisah dalam Al-Qur’an, sejarah Islam, hadis, fikih, bahasa Arab, hingga berbagai pengetahuan keislaman lainnya. Dalam banyak format perlombaan Fahmil Qur’an, pertanyaan diberikan dalam bentuk soal paket dan soal rebutan, sehingga peserta dituntut untuk mampu berpikir cepat sekaligus tepat.
Karena itu, kemenangan dalam Fahmil Qur’an tidak lahir hanya dari kemampuan menghafal. Di dalamnya terdapat proses belajar, membaca, memahami, berdiskusi, mengingat kembali informasi, serta melatih kecepatan mengambil keputusan ketika berada di hadapan dewan hakim.
Juara 1 Fahmil Qur’an yang diraih oleh tim Taruna Insani menjadi gambaran bahwa pembelajaran Al-Qur’an dapat berkembang menjadi kemampuan berpikir yang luas dan terintegrasi.
Syarhil Qur’an: Ketika Al-Qur’an Disampaikan dengan Ilmu dan Seni
Jika Fahmil Qur’an menguji kemampuan memahami dan menjawab, maka Syarhil Qur’an menghadirkan tantangan yang berbeda. Cabang ini merupakan perlombaan beregu yang menyampaikan kandungan Al-Qur’an melalui perpaduan bacaan ayat, terjemah, dan uraian atau syarahan secara terpadu dan komunikatif.
Tim Syarhil Qur’an Taruna Insani mengangkat tema “Derajat Orang Berilmu dan Tanggung Jawab Moral” dengan perspektif kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali.
Naskah syarhil tersebut tidak berhenti pada pembahasan tentang keutamaan ilmu. Pesannya justru diarahkan kepada pertanyaan yang lebih mendalam: untuk apa ilmu dimiliki dan bagaimana ilmu seharusnya membentuk kehidupan seseorang?
Penampilan dibuka dengan mukadimah dan pengantar yang menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang mulia, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa ilmu tanpa niat yang lurus dan amal nyata dapat kehilangan maknanya. Kemudian, tim mengangkat QS. Al-Mujadilah ayat 11 sebagai landasan tentang Allah SWT yang mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu.
Isi syarahan kemudian dibangun melalui tiga gagasan utama. Pertama, kemuliaan niat dan amal; ilmu seharusnya menjadi jalan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Kedua, ancaman ilmu tanpa amalan; ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan atau bahan untuk berbicara, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan. Ketiga, adab dan rasa takut kepada Allah; semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan semakin kuat kesadarannya kepada Allah SWT.
Pada bagian penutup, pesan syarahan dirangkum dalam tiga prinsip: meluruskan niat dalam menuntut ilmu, mengikat ilmu dengan amal, dan menjaga adab agar ilmu tidak melahirkan kesombongan.
Naskah tersebut menunjukkan bahwa Syarhil Qur’an bukan sekadar kemampuan berbicara di atas panggung. Peserta harus mampu memahami tema, menguasai dalil, menyusun argumentasi, menghafal alur penyampaian, membaca ayat dengan baik, menyampaikan terjemah, serta membangun komunikasi yang kuat dengan dewan hakim dan para hadirin.
Dengan bekal itulah, tim Syarhil Qur’an Taruna Insani berhasil meraih Juara 1.
Isi naskah Syarhil Qur’an “Derajat Orang Berilmu dan Tanggung Jawab Moral” menegaskan bahwa ilmu harus melahirkan amal, adab, dan ketundukan kepada Allah SWT.
MHQ 10 Juz: Ketekunan Menjaga Kalamullah
Prestasi lainnya datang dari cabang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 10 Juz. Pada cabang ini, kekuatan hafalan menjadi fondasi utama. Meraih Terbaik 2 dalam kategori 10 juz tentu bukan proses yang sederhana. Di balik satu penampilan, terdapat proses murajaah yang berulang, menjaga kelancaran hafalan, ketepatan ayat, serta kesiapan mental ketika harus menyetorkan hafalan di hadapan dewan hakim.
Capaian ini menjadi pengingat bahwa prestasi Al-Qur’an dibangun dari istiqamah. Hafalan bukan sekadar banyaknya ayat yang tersimpan dalam ingatan, tetapi bagaimana ayat-ayat tersebut terus dijaga agar tetap hidup dalam hati dan perilaku.
Kemenangan yang Menjadi Kebanggaan Desa Sasak Panjang
Keberhasilan santri Taruna Insani dalam MTQ kali ini memiliki makna yang lebih luas karena mereka tampil membawa nama Desa Sasak Panjang. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bukan hanya bagi sekolah dan keluarga para santri, tetapi juga bagi masyarakat desa yang mereka wakili.
Momen kemenangan tersebut terasa semakin istimewa dengan hadirnya unsur pemerintahan dan tokoh keagamaan Desa Sasak Panjang. Kepala Desa Sasak Panjang, Andy Umi Yulaikah, M.Pd., turut menyaksikan sekaligus mengabadikan momen kemenangan bersama piala yang berhasil diraih para santri.
Kehadiran tokoh agama desa juga menjadi bagian penting dari kebanggaan tersebut. Kepada Desa Sasak Panjang dan Ketua MUI Desa Sasak Panjang, turut menyaksikan dan mengabadikan kemenangan para santri bersama piala yang mereka raih.
Momen ketika para pemangku masyarakat turut memegang piala kemenangan menjadi simbol bahwa prestasi para santri tidak berdiri sendiri. Ada sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah desa, dan para tokoh agama yang bersama-sama memberikan ruang bagi tumbuhnya generasi Qur’ani.
Menang dengan Al-Qur’an, Tumbuh Bersama Al-Qur’an
Tiga prestasi yang diraih dalam satu ajang ini tentu patut disyukuri. Namun, lebih dari sekadar gelar juara, kemenangan tersebut diharapkan menjadi bagian dari perjalanan panjang para santri dalam mendalami Al-Qur’an.
Fahmil Qur’an mengajarkan mereka untuk memahami dan berpikir cepat. Syarhil Qur’an melatih mereka untuk menyampaikan pesan Al-Qur’an dengan ilmu, argumentasi, dan adab. Sementara MHQ 10 Juz mengajarkan ketekunan dalam menjaga hafalan.
Ketiganya bermuara pada satu tujuan: agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dihafalkan, tetapi dipahami, disampaikan, diamalkan, dan menjadi bagian dari akhlak kehidupan.
Selamat kepada para santri Taruna Insani yang telah berjuang membawa nama Desa Sasak Panjang. Semoga capaian ini menjadi wasilah bertambahnya kecintaan kepada Al-Qur’an, keberkahan ilmu, dan semangat untuk terus berprestasi dalam kebaikan.
بارك الله فيكم
Barakallāhu fīkum. Semoga Allah memberkahi ilmu, hafalan, perjuangan, dan setiap langkah kalian.