Anak duduk memunggungi ruangan, wajahnya disapu cahaya biru layar, panggilan hanya dijawab "sebentar"—yang tidak pernah benar-benar sebentar. Hampir setiap orang tua mengenali adegan ini.
Pertanyaan yang biasa muncul: berapa jam anak boleh pegang gawai? Menurut Dr. Muhammad Ali Ridho Assagaf, Direktur Pendidikan Taruna Insani Boarding School, pertanyaan itu terlalu sempit.
Pada 15 Agustus 2026, beliau hadir di Desa Margasari, Banten, untuk mengajak orang tua dan guru melihat persoalan dari sudut berbeda—bukan durasi, melainkan relasi. Kehadiran TIBS di seminar parenting ini adalah realisasi komitmen kami membawa perspektif edukatif dan inspiratif ke komunitas, membantu keluarga memahami perkembangan anak di era digital.
Tim KKN UIN Syarif Hidayatullah di SDN Bugel menemukan pola jelas: anak menghabiskan waktu dengan gadget bukan karena gawai menarik, melainkan karena ada kekosongan di tempat lain.
Mereka menangkapnya saat tidak ada teman bermain, saat orang tua bekerja, saat komunikasi rumah minim. Guru mengkonfirmasi: konsentrasi belajar turun, relasi dengan orang tua kendor. Namun anak yang tetap mendapat perhatian— sekecil apa pun—menunjukkan perkembangan lebih baik.
Persoalan bukan pada alat, melainkan pada apa yang tidak dipenuhi dunia nyata.
Ini mengubah pertanyaan dari "berapa lama?" menjadi "kebutuhan apa yang sedang dipenuhi gawai?"
Beliau menggunakan teori kelekatan, regulasi diri, dan kebutuhan psikologis anak untuk menjawab pertanyaan ini dengan lebih mendalam.
Tiga Hal yang Perlu Dipahami Orang Tua
Ada tiga hal yang perlu dipahami orang tua.
Pertama, anak membutuhkan orang tua yang hadir secara emosional, bukan hanya fisik di dekatnya. Bahkan 15 menit perhatian penuh sering lebih berarti daripada berjam-jam kehadiran yang tidak fokus.
Kedua, anak belajar mengendalikan emosi dan dorongan-dorongannya dari pengalaman berulang bersama orang dewasa yang memberikan kehangatan dan bimbingan yang konsisten.
Ketiga, setiap anak memiliki tiga kebutuhan dasar: merasa terhubung dengan orang tua, merasa mampu atau percaya diri, dan memiliki kontrol atas dirinya sendiri.
Gadget memberikan ketiga hal ini dengan instan. Oleh karena itu, solusinya bukan hanya melarang gadget, melainkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu melalui interaksi langsung di dunia nyata.
Connect — Replace — Regulate — Model
Beliau menawarkan kerangka sederhana yang bisa langsung dijalankan keluarga dengan waktu dan biaya terbatas:
- Connect — Bangun hubungan sebelum melakukan koreksi.
- Replace — Ganti fungsi layar dengan aktivitas yang bermakna.
- Regulate — Tetapkan batas yang sederhana dan konsisten.
- Model — Orang tua menunjukkan dahulu, karena keteladanan adalah pengajaran paling jujur.
Mengapa TIBS Peduli?
Karena kami percaya pendidikan berkualitas tidak berhenti di kelas.
Misi kami membawa perspektif ini ke komunitas yang belum terjangkau diskursus parenting era digital, menginspirasi orang tua melihat tantangan mereka sebagai call untuk memulihkan hubungan dengan anak.
Seminar ini adalah ajakan untuk orang tua: bahwa dunia nyata yang hangat dan penuh relasi adalah jawaban yang sesungguhnya dicari anak.
Seminar ini sebagai ajakan konkret kepada orang tua untuk mengutamakan relasi sebagai solusi utama, bukan teknologi.
Karena hubungan yang berkualitas antara orang tua dan anak adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh gawai apa pun.